oleh

Pemprov Lampung Perkuat Ekonomi Petani, Hilirisasi Gabah di Tingkat Desa Didorong Lewat Bed Dryer

banner 468x60

PRINGSEWU – Pemerintah Provinsi Lampung terus mendorong penguatan sektor pertanian melalui program hilirisasi hasil panen di tingkat desa.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengoptimalkan pemanfaatan mesin pengering gabah (bed dryer) guna meningkatkan kualitas hasil panen sekaligus memperbesar nilai jual yang diterima petani.

banner 336x280

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal memastikan bantuan mesin pengering gabah di Pekon Sumber Agung, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Pringsewu, dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mempercepat proses pengeringan dan meningkatkan kualitas hasil pertanian.

Hal tersebut disampaikan Gubernur saat berdialog langsung dengan kelompok tani di Pekon Sumber Agung, Jumat (14/8/2026).

Menurut Gubernur Mirza, pengeringan gabah di tingkat desa merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan kesejahteraan petani. Selama ini, petani kerap menghadapi persoalan ketika harus menjual gabah dalam kondisi basah karena keterbatasan fasilitas pengeringan.

Akibatnya, kualitas gabah berpotensi menurun dan harga jual yang diterima petani menjadi kurang optimal.

Mesin bed dryer yang dikelola Kelompok Tani Sumber Tani 8 tersebut memiliki kapasitas sekitar 20 ton gabah dalam satu kali proses pengeringan. Teknologi ini diharapkan menjadi solusi atas ketergantungan petani terhadap proses pengeringan tradisional yang sangat dipengaruhi kondisi cuaca.

Ketua Kelompok Tani Sumber Tani 8, Andi Lala, menjelaskan bahwa sebelum tersedia mesin pengering, petani masih mengandalkan lantai jemur maupun terpal. Proses tersebut membutuhkan waktu cukup lama, bahkan bisa mencapai satu pekan ketika hujan turun.

Dengan menggunakan bed dryer, proses pengeringan gabah berkapasitas hingga 20 ton diperkirakan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 10–12 jam.

Selain mempercepat proses produksi, teknologi tersebut juga berpotensi menjaga mutu gabah dan memperpanjang masa penyimpanan. Gabah yang telah dikeringkan bahkan dapat disimpan hingga sekitar satu tahun sehingga petani memiliki keleluasaan menentukan waktu penjualan berdasarkan perkembangan harga pasar.

Gubernur Mirza juga menyoroti manfaat efisiensi transportasi. Pengeringan gabah sebelum diangkut dapat mengurangi beban kendaraan karena petani tidak lagi harus membayar biaya angkut untuk kandungan air berlebih dalam gabah.

Lebih jauh, Pemprov Lampung mengarahkan pemanfaatan bed dryer sebagai bagian dari strategi hilirisasi pertanian. Petani didorong tidak hanya menjual gabah, tetapi juga mengembangkan pengolahan menjadi beras serta memanfaatkan produk sampingan berupa bekatul dan sekam untuk berbagai kebutuhan, termasuk pakan dan pupuk.

Pengelola pabrik terpadu, Wargito, menjelaskan bahwa pengeringan dan pengolahan hasil pertanian akan diintegrasikan dalam satu rangkaian kegiatan. Dengan pola tersebut, hasil panen petani dapat diproses lebih lanjut menjadi beras sehingga nilai tambah ekonomi tetap berputar di lingkungan desa.

Upaya ini sejalan dengan program Desaku Maju yang dikembangkan Pemerintah Provinsi Lampung untuk memperkuat agroindustri dan meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat desa.

Gubernur Mirza juga mendorong agar pengelolaan mesin pengering tidak berhenti pada penyediaan fasilitas semata. Kelompok tani diharapkan mampu mengoptimalkan pemanfaatannya, termasuk membuka layanan jasa pengeringan bagi petani di wilayah sekitar.

Selain itu, pembangunan gudang atau lumbung pangan desa dinilai penting untuk mendukung penyimpanan hasil panen, menjaga ketersediaan pangan, serta memperkuat rantai distribusi dan pemasaran produk pertanian.

Melalui penguatan sektor pertanian dari hulu hingga hilir, Pemerintah Provinsi Lampung berharap petani tidak lagi hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga mampu memperoleh keuntungan lebih besar melalui pengolahan dan pemasaran hasil panen.

Pemanfaatan teknologi bed dryer di tingkat desa menjadi salah satu langkah konkret untuk memperkuat posisi petani dalam rantai ekonomi pertanian, meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat dan generasi muda di pedesaan.

Dengan demikian, hilirisasi gabah di tingkat desa diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan kesejahteraan petani di Provinsi Lampung.(***)

banner 336x280

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *